Pabrikan Yang Tangkas (Agile Manufacturing) Suatu Kebutuhan atau Kewajiban bagi Perusahaan Dewasa Ini?

Mengapa Diperlukan di Abad 21 Dewasa Ini?

Saya mengajak untuk berselancar Bersama-sama mengenai apa yang kita lakukan dan apa saja produk dan jasa yang kita gunakan. Di pagi hari bangun tidur kemudian kita mengambil handuk dan mandi pagi.  Handuk adalah produk tekstil yang dijual di berbagai toko. Model, ukuran, warna, harga dan kualitas ditawarkan. 

Beberapa merek handuk diantaranya Terry Palmer Excellence, Quickdry New Travel Towel, Handuk Good Morning, Mutia Towel, Howel and Co – Couple Towel, Chliya Bathrobe, Cotton Tree Towel, Nabaiji Towel, IKEA Vagsjon, Little Palmerhaus Little Terry Mickey Travel, Sorex HM 887 Cotton Bamboo Towel production. Padahal saya membeli handuk beberapa saja untuk peruntukan sehari-hari di rumah dan handuk untuk digunakan sewaktu di luar kota.

Bisa jadi bahwa saya hanya mempunyai handuk sekitar 3 buah saja yang saya gunakan selama 6 bulan atau lebih. Pertanyaannya adalah mengapa ada produsen handuk di negeri ini sampai dengan detik ini, bahkan handuk imporpun beredar di Indonesia.  Banyak pabrikan yang memproduksi dan menjual maka tentunya ada ”persaingan bisnis” handuk.  Selanjutnya begitu masuk kamar mandi saya menggunakan sabun mandi, shampoo, pasta gigi dan sikat gigi.

Merek sabun mandi di Indonesia diantaranya Lifebuoy, Nuvo, Lux, Dettol, Dove, Shinzui, Biore, Cussons, Harmony, Betadine, The Body Shop, Herbois, Scarlett, Leivy, Sentania dan lainnya (katadata, 2022).  Merek Shampoo yang beredar diantaranya Pantene, Sunsilk, Lifebuoy, Head & Shoilders, Dove, Rejoice, Tresenme, Natur, Wardah, L’Oreal, Makrizo, The Body Shop, Romano, Mane ‘n Tail, Diane dan lainnya.

Merek Pasta gigi yang popular diantaranya adalah Pepsodent, Ciptadent, CloseUp, Sensodyne, Formula, Enzim, Colgate, Darlie, Zact, Systema, Antiplaque dan lainnya.  Didalam kamar mandi ada closet yang lumayan bagus.  Jenis merek closet di Indonesia diantaranya merek Grohe, TOTO, San-ei, American Standard.

Sarapan yang disediakan adalah Mie Instan, secangkir Kopi dan segelas air Aqua.  Saya memeriksa merek mie instannya adalah Indomie. Kita ketahui bahwa Indomie sudah mendunia ranking ke 10 produk dalam kelompok FMCG (Fast Moving Consumer Goods), yaitu Coca-cola, Cpolgate, Lifebuoy, Maggi, Lay’s, Pepsi, Indomie, Dove, Sunsilk dan Nescafe.

Saya siap-siap berangkat ke kantor dengan mobil Toyota Vios.  Sementara Kopi yang saya teguk adalah kopi Kapal Api. Banyak merek kopi sacket diantaranya Kapal api, Good Day, Kopi ABC, Luwak white koffie, Indocafe, Torabika, Nescafe, TOP dan lainnya.  Sebotol Aqua yang saya minum adalah merek Aqua.  Merek air minum dalam keamsan lain misalnya Aqua, Le Minerale, Nestle, Vit, Crystalinne, Cleo dan Ades.

Saya siap-siap berangkat ke kantor dengan mobil Toyota Vios. Banyak merek mobil di Indonesia diantaranya adalah Toyota, Daihatsu, Honda, Mitsubishi, Suzuki, Isuzu, Hino, Hyundai dan Wuling. Sedangkan merek mobil yang terlaris adalah Toyota, Volkswagen, Hinda, Ford, Hyundai, Nissan, Kia, Chevrolet, Mercedes dan BMW.

Dan tidak lupa saya ambil mobile phone saya merek OPPO dan Samsung.  Padahal banyak merek handphone dijual di Indoneia diantaranya adalah Samsung, Xiaomi, Oppo, Vivo, Realme, Apple, ASUS, Sony, Huwaei, Nokia, Googpe Pixel dan lainnya.

Saya hentikan cerita di atas, tentunya pembaca sudah mulai memahami arah cerita di atas, ingin menyampaikan bahwa dalam kehidupan kita sehari-hari sudah dikepung dengan berbagai produk dan jasa atas pemenuhan kebutuhan dan keinginan kita mulai bangun tidur hingga tidur kembali. 

Para produsen suatu produk senantiasa bersaing dengan berbagai upaya strategi untuk mempertahankan market share, profitabilitas dan keberlanjutannya (sustainable) secara jangka panjang.  Produsen perlu memonitor secara terus menerus Perubahan Cepat di Pasar baik Perkembangan teknologi, perubahan tren konsumen, dan situasi ekonomi yang tidak stabil yang dapat menyebabkan perubahan cepat dalam permintaan dan persaingan.

Dalam era di mana pelanggan memiliki harapan yang tinggi terhadap layanan dan produk yang disesuaikan, Efisiensi dan Penghematan Biaya, Ketahanan Rantai Pasokan, Kompetitivitas, Inovasi, Kebutuhan untuk Pengambilan Keputusan yang Cepat dan Kepatuhan Terhadap Keberlanjutan. 

Kepentingan agile manufacturing sangat tinggi dalam lingkungan bisnis yang berubah dengan cepat di abad 21. Kemampuan untuk beradaptasi, menjadi responsif, dan menghadapi perubahan adalah kualitas yang sangat dihargai dalam kesuksesan bisnis.

Oleh karena itu, perusahaan yang mengadopsi prinsip-prinsip agile manufacturing memiliki keunggulan yang jelas dalam menghadapi tantangan bisnis yang dinamis dan kompetitif.

Apakah yang Dimaksudkan Agile manufacturing?

Agile manufacturing adalah sebuah pendekatan dalam industri manufaktur yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan produksi yang fleksibel, responsif, dan adaptif.

Tujuannya adalah untuk menghasilkan produk dengan efisiensi tinggi, mengurangi waktu produksi, meningkatkan kualitas, dan merespons dengan cepat perubahan dalam permintaan pasar atau kebutuhan pelanggan. Berikut adalah beberapa karakteristik utama dari agile manufacturing:

  1. Fleksibilitas: Agile manufacturing menekankan fleksibilitas dalam perubahan produksi dan konfigurasi pabrik. Ini memungkinkan produsen untuk dengan cepat beralih dari satu produk atau jenis produk ke yang lain sesuai dengan permintaan pelanggan atau perubahan dalam pasar.
  2. Kolaborasi: Agile manufacturing mendorong kolaborasi yang erat antara berbagai departemen dalam organisasi, termasuk desain, produksi, pengendalian kualitas, dan manajemen rantai pasokan. Ini memungkinkan respons yang lebih cepat terhadap perubahan dan perbaikan berkelanjutan.
  3. Penggunaan Teknologi: Penggunaan teknologi informasi dan otomatisasi sangat penting dalam agile manufacturing. Sistem informasi yang canggih membantu dalam perencanaan produksi yang lebih baik, pemantauan inventaris, dan perbaikan berkelanjutan.
  4. Lean Production: Prinsip-prinsip lean manufacturing sering digunakan dalam agile manufacturing. Ini melibatkan pengurangan limbah, peningkatan efisiensi, dan pengoptimalan proses produksi.
  5. Responsif terhadap Perubahan: Agile manufacturing dirancang untuk merespons dengan cepat terhadap perubahan pasar, teknologi, atau kebutuhan pelanggan. Ini dapat mengurangi risiko overproduksi atau kekurangan pasokan.
  6. Fokus pada Pelanggan: Agile manufacturing berpusat pada kepuasan pelanggan. Ini memungkinkan perusahaan untuk lebih baik memahami kebutuhan pelanggan dan merespons dengan cepat terhadap perubahan dalam preferensi pelanggan.
  7. Desentralisasi: Agile manufacturing sering melibatkan desentralisasi keputusan, sehingga tim di tingkat operasional dapat mengambil keputusan yang lebih cepat dan sesuai dengan perubahan yang terjadi.

Agile manufacturing membantu perusahaan untuk tetap kompetitif dalam lingkungan bisnis yang berubah dengan cepat, terutama dalam industri di mana inovasi produk dan perubahan permintaan pasar sangat umum.

Agile manufacturing sendiri tidak biasanya dikaitkan dengan teori tertentu, melainkan lebih sebagai kerangka kerja operasional untuk mencapai fleksibilitas dan responsivitas dalam produksi. Artikel utama yang relevan atau konsep-konsep kunci dalam agile manufacturing, beberapa literatur yang relevan dan berpengaruh dalam bidang ini adalah :

  1. Agile Manufacturing: A New Challenge for Materials Research” oleh I. B. M. El-Haik dan B. Golany (1997). Artikel ini membahas konsep agile manufacturing dan tantangan yang dihadapi dalam hal penelitian material. Ini adalah salah satu kontribusi awal untuk pemahaman tentang agile manufacturing.
  2. Agile Manufacturing: The Next Logical Step” oleh Charles H. Fine (1998). Artikel ini menyoroti konsep-konsep dasar agile manufacturing dan mengidentifikasi mengapa hal itu menjadi langkah logis selanjutnya dalam evolusi manufaktur.
  3. The Agile Virtual Enterprise: Cases, Metrics, Tools” oleh P. S. Patrick Dallasega, O. Bendul, dan R. Steger (2015). Artikel ini membahas penggunaan teknologi informasi dalam mendukung manufaktur yang responsif dan adaptif, yang merupakan komponen penting dalam konsep agile manufacturing.

Agile manufacturing adalah bidang ilmu yang lebih praktis dan pragmatis, yang fokus pada implementasi praktik terbaik dalam konteks manufaktur yang berubah-ubah.

Penerapan Agile Manufacturing di Industri Makanan

Penerapan prinsip-prinsip agile manufacturing dalam industri makanan dapat membantu produsen makanan untuk menjadi lebih responsif terhadap perubahan pasar, permintaan konsumen, dan tren industri. Berikut adalah beberapa contoh penerapannya:

  1. Diversifikasi Produk: Produsen makanan dapat dengan cepat menyesuaikan lini produk mereka dengan tren makanan yang berubah. Misalnya, mereka dapat dengan mudah menambahkan produk baru atau berubah dalam komposisi produk yang ada untuk memenuhi permintaan konsumen yang berubah, seperti produk makanan organik, makanan bebas gluten, atau makanan kesehatan.
  2. Produksi Campuran Kecil: Agile manufacturing memungkinkan produksi batch kecil atau campuran, sehingga produsen makanan dapat memenuhi permintaan konsumen yang lebih spesifik. Ini juga mengurangi risiko pemborosan jika ada perubahan dalam tren pasar.
  3. Pengendalian Persediaan: Dengan menggunakan sistem informasi yang canggih, produsen makanan dapat memantau persediaan bahan baku dengan cermat dan merespons dengan cepat terhadap perubahan dalam permintaan. Ini membantu menghindari overstocking atau kekurangan bahan baku.
  4. Kerja Sama dengan Pemasok: untuk memastikan pasokan bahan baku yang stabil dan berkualitas. Mereka dapat berkolaborasi dalam mengidentifikasi sumber alternatif jika terjadi gangguan pasokan.
  5. Personalisasi Produk: semakin penting untuk memungkinkan konsumen menyesuaikan produk mereka, seperti pilihan rasa, ukuran porsi, atau kandungan gizi.
  6. Manajemen Kualitas: membantu dalam memantau dan memperbaiki kualitas produk makanan. Jika ada masalah kualitas yang terdeteksi, perbaikan dapat dilakukan dengan cepat untuk mencegah penarikan produk.
  7. Efisiensi Produksi: membantu produsen makanan mengidentifikasi dan mengurangi pemborosan dalam proses produksi, kurangi biaya produksi, dan meningkatkan efisiensi.
  8. Penggunaan Teknologi Pemantauan: untuk mengawasi dan memantau proses produksi dan kondisi lingkungan dengan lebih baik, sehingga mereka dapat menghindari masalah produksi yang tidak diinginkan.

Penerapan agile manufacturing di industri makanan sangat bervariasi tergantung pada jenis produk, ukuran perusahaan dan konsumennya. Namun, prinsipnya adalah tentang menjadi lebih fleksibel, responsif, dan efisien dalam produksi makanan, sehingga produsen dapat memenuhi permintaan pasar yang berubah dengan cepat dan mempertahankan daya saing.

Penerapan Agile Manufacturing Di Industri Jasa

Meskipun agile manufacturing lebih sering dikaitkan dengan industri manufaktur, prinsip-prinsipnya dapat disesuaikan dan diterapkan dengan baik dalam industri jasa. Agile services atau layanan yang responsif dapat membantu perusahaan jasa menjadi lebih adaptif terhadap perubahan dalam kebutuhan pelanggan dan pasar.

  1. Pelayanan Pelanggan Responsif: Dalam industri jasa adalah kunci. Perusahaan jasa dapat mengadopsi sistem yang memungkinkan pelanggan untuk dengan cepat mendapatkan bantuan atau informasi, misal layanan pelanggan 24/7 atau chat online.
  2. Personalisasi Layanan: Seperti dalam industri makanan, personalisasi semakin penting dalam industri jasa. Perusahaan dapat menggunakan data pelanggan untuk memberikan layanan yang lebih sesuai dengan kebutuhan individu.
  3. Fleksibilitas Jadwal: Dalam layanan seperti pemesanan tiket, perawatan kesehatan, atau konsultasi, perusahaan jasa dapat mengadopsi sistem yang memungkinkan pelanggan untuk dengan mudah merubah atau menjadwalkan ulang janji mereka.
  4. Manajemen Rantai Pasokan Jasa: untuk memastikan barang atau layanan tersedia tepat waktu dan responsif terhadap perubahan permintaan.
  5. Manajemen Proyek: Dalam industri jasa seperti konsultasi manajemen atau pembangunan perangkat lunak, perusahaan dapat menerapkan metode agile (seperti Scrum) untuk mengelola proyek dengan lebih adaptif terhadap perubahan kebutuhan klien.
  6. Optimasi Sumber Daya Manusia: Perusahaan jasa, seperti penyedia tenaga kerja sementara, dapat menggunakan agile untuk merespons dengan cepat perubahan dalam permintaan tenaga kerja atau keterampilan yang diperlukan.
  7. Inovasi Layanan: Perusahaan jasa harus terus berinovasi untuk tetap relevan. Agile dapat digunakan untuk mengidentifikasi, menguji, dan menerapkan perubahan dalam layanan dengan lebih cepat.
  8. Kolaborasi dan Komunikasi: Agile juga dapat digunakan untuk meningkatkan kolaborasi internal dalam perusahaan jasa. Ini melibatkan komunikasi yang lebih baik antara tim, departemen, dan cabang perusahaan.
  9. Pelatihan dan Pengembangan Karyawan: Agile dapat diterapkan dalam pelatihan dan pengembangan karyawan untuk memastikan bahwa karyawan memiliki keterampilan yang relevan dan dapat mengikuti perkembangan industri.

Agile dalam industri jasa seringkali melibatkan pemikiran berorientasi pada pelanggan, komunikasi yang terbuka, fleksibilitas, dan kemampuan untuk merespons dengan cepat terhadap perubahan.

Hal ini dapat membantu perusahaan jasa memenuhi kebutuhan pelanggan yang beragam dan tetap kompetitif dalam lingkungan bisnis yang cepat berubah

Konsep ini erat kaitannya dengan lean manufacturing yang tujuannya adalah untuk mengurangi limbah semaksimalnya. Dalam lean manufacturing, perusahaan bertujuan untuk memotong semua biaya yang tidak berhubungan langsung dengan produksi suatu produk ke konsumen.

Manufaktur tangkas dapat mencakup konsep ini, namun juga menambahkan dimensi tambahan, yaitu gagasan bahwa permintaan pelanggan harus dipenuhi dengan cepat dan efektif. Dalam situasi di mana perusahaan mengintegrasikan kedua pendekatan tersebut, mereka terkadang dikatakan menggunakan “manufaktur yang gesit dan ramping”.

Perusahaan yang menggunakan pendekatan manufaktur tangkas cenderung memiliki jaringan yang sangat kuat dengan pemasok dan perusahaan terkait, serta banyak tim kooperatif yang bekerja di dalam perusahaan untuk mengirimkan produk secara efektif.

Mereka dapat melengkapi kembali fasilitas dengan cepat, menegosiasikan perjanjian baru dengan pemasok dan mitra lain sebagai respons terhadap perubahan kekuatan pasar, dan mengambil langkah lain untuk memenuhi permintaan pelanggan.

Artinya, perusahaan dapat meningkatkan produksi produk dengan permintaan konsumen yang tinggi, serta mendesain ulang produk untuk menjawab permasalahan yang muncul di pasar terbuka.

Pasar dapat berubah dengan sangat cepat, terutama dalam perekonomian global. Perusahaan yang tidak dapat beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan mungkin akan tertinggal, dan begitu perusahaan mulai kehilangan pangsa pasar, perusahaan tersebut dapat jatuh dengan cepat.

Tujuan dari agile manufacturing adalah untuk membuat perusahaan menjadi yang terdepan dalam persaingan sehingga konsumen memikirkan perusahaan tersebut terlebih dahulu, sehingga memungkinkan perusahaan untuk terus berinovasi dan memperkenalkan produk baru, karena perusahaan tersebut stabil secara finansial dan memiliki basis dukungan pelanggan yang kuat.

Perusahaan yang ingin beralih ke penggunaan agile manufacturing dapat memanfaatkan konsultan yang berspesialisasi dalam membantu perusahaan mengubah dan meningkatkan sistem yang ada.

Konsultan dapat menawarkan saran dan bantuan yang disesuaikan dengan industri di mana perusahaan terlibat, dan mereka biasanya fokus untuk menjadikan perusahaan kompetitif secepat mungkin dengan teknik tangkas yang terbukti. Ada juga sejumlah buku teks dan manual yang tersedia dengan informasi tambahan mengenai teknik dan pendekatan manufaktur tangkas.

Pendekatan lain yang dikembangkan dengan menggabungkan atribut agility dan leanness di satu rantai pasokan adalah strategi hybrid lean-agile. Strategi blended lean-agile ini memadukan atribut leanness (minimisasi biaya, pengurangan limbah, perbaikan berkelanjutan), agility (kecepatan, fleksibilitas, daya tanggap) dan leagility (kustomisasi massal, penundaan) dalam satu jaringan pasokan.

Signifikansi dari aspek hybridized lean lebih tinggi pada bagian hulu rantai pasok dibandingkan dengan dimensi agility pada node pemasok yang sama, dibandingkan dengan bagian hilir rantai pasok pada simpul distributor yang lebih dekat dengan pelanggan, yang beroperasi dengan cara yang lebih agile.

Penulis

Kuncoro

Direktur Utama MSS Strategic